Seberapa Pentingnya Reksa Dana untuk Dijadikan Alternatif Investasi? Simak Ulasan Berikut Ini Hingga Selesai.

Dua tahun yang lalu saya pernah mengikuti sebuah pelatihan pengelolaan keuangan yang dilatih oleh salah satu financial planner terkenal di Indonesia. Saat itu saya masih kuliah, memang belum terfikir untuk apa tapi yang pasti akan bermanfaat ilmunya.

Paling enggak, buat diri sendiri dan suatu saat saya akan jadi menteri keuangan di rumah, hehe. Dijelaskanlah beragam pilihan investasi yang umum dilakukan, seperti deposito, properti, emas, reksa dana, saham, dan lainnya.

Tapi ada satu yang menarik, reksadana. Menarik buat saya karena bisa dijalankan dengan modal minim dan saya rasa cocok untuk saya yang berusia 20-an yang belum paham mendalam mengenai investasi.

Mengapa harus investasi? Sebenarnya kala itu saya belum melek investasi karena merasa masih mahasiswi unyu dan belum berpenghasilan tetap.

Padahal gak perlu nunggu mapan untuk mulai berinvestasi. Justru yang gak investasi yang akan mengalami kerugian.

Contoh hitungan sederhananya, ketika dulu masih bisa bayar parkir motor 500 rupiah, sekarang bayarnya udah 4 kali lipat. Itu artinya nilai uang kita beberapa tahun lalu dengan saat ini berkurang.

Baca juga : Jangan Berinvestasi Reksa Dana sebelum Membaca Artikel Ini!

Nah, bisa terjadi demikian karena rata-rata inflasi di Indonesia bisa mencapai 3-5 persen per tahun. Jadi sebenarnya dengan sadar akan inflasi dan penurunan nilai mata uang, masyarakat harusnya lebih ‘ngeh’ bahwa investasi adalah bentuk penyelamatan harta kita dari penyusutan.

Uang memang bukan segalanya, namun segala-galanya memerlukan uang”. Yap, quote yang membuat saya berfikir bagaimana mengelola uang sebaik-baiknya dan apa pilihan investasi yang tepat di usia saya yang masih 20-an?

Mahasiswi, penghasilan tetap belum punya, sebagian biaya hidup masih ditanggung orang tua. Tapi, kalau saya tidak memulai dari sekarang lalu kapan?

Maka saya riset kecil-kecilan, membaca beberapa buku pedoman investasi agar hati saya lebih yakin apa pilihan investasi saya. Ketemulah dengan sebuah buku yang enak dibaca, dan tidak banyak istilah-istilah ‘njelimet’ untuk orang yang awam akan ilmu ekonomi.

Judulnya “Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana” yang ditulis oleh Ryan Filbert Wijaya.

Buku yang terdiri dari 9 BAB ini gak hanya menjelaskan teori reksa dana, namun pengalaman penulis yang sudah berinvestasi di reksa dana pun dijabarkan di buku ini dengan gamblang.

Baca juga : Tips dan Trik Investasi Cerdas untuk Pemula

Dimulai dari pengenalan apa itu reksa dana? Apa pentingnya reksa dana? Lalu bagaimana jika kita mau mulai berinvestasi dengan reksadana disajikan dengan clear bagi pembaca yang awam atau sudah paham dengan reksa dana.

Dikutip dari buku tersebut, definisi reksa dana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksa dana.

Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang, ataupun efek/sekuriti lainnya (Wikipedia).

Jadi seorang pembeli produk reksadana tidak perlu mengerti dengan bagaimana cara bertransaksi dalam instrumen-instrumen investasi, karena itu semua akan dijalankan oleh si Manajer Investasi.

Hanya sedikit hal yang perlu kita ketahui bila ingin berinvestasi pada reksa dana dibandingkan berinvestasi langsung pada saham, obligasi, dan lain sebagainya.

Apa saja kategori-kategori reksa dana? Berikut kategorinya yang saya kutip dari buku Ryan Filbert. Mari kita simak, siapa tau ada yang cocok.

Katergori Reksa Dana yang Umum Berada di Indonesia

1. Reksa Dana Pasar Uang

Merupakan reksa dana yang menempatkan seluruh asset investornya pada instrumen pasar uang. Instrumen pasar uang adalah efek yang jangka waktunya kurang dari setahun, misalnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito, atau obligasi dengan jangka waktu kurang dari satu tahun.

Oleh karena portfolio investasinya ditanamkan pada kebanyakan asset Negara maka profil risiko reksa dana ini adalah yang terkecil untuk mengalami collabse (kebangkrutan).

2.Reksa Dana Pendapatan Tetap

Reksa dana yang berinvestasi terbesar pada efek utang, umumnya pada obligasi. Reksa dana ini memiliki risiko sedikit lebih besar dibandingkan pasar uang karena 80% atau lebih dana kelolaannya diwajibkan dalam bentuk portofolio utang, baik utang obligasi swasta maupun pemerintah dalam jangka waktu yang lebih panjang dari 1 tahun.

3. Reksa Dana Saham

Reksa dana yang menginvestasikan portfolionya 80% atau lebih di dalam surat berharga yaitu saham. Hingga saat ini Manajer Investasi yang mengelola dana kelolaan hanya diperbolehkan membeli surat berharga yang listing pada Bursa Efek Indonesia.

Reksa dana ini memiliki resiko paling besar dibandingkan yang lainnya akibat dari fluktuasi harga saham yang begitu dinamis.

4. Reksa Dana Campuran

Reksa dana campuran merupakan reksa dana yang menginvestasikan dananya pada efek ekuitas (saham) dan efek utang (obligasi dan deposito) dengan komposisi yang tidak termasuk kategori reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, maupun reksa dana pasar uang.

Yang paling membedakan reksa dana campuran dengan reksa dana jenis lain adalah tingkat fleksibilitasnya dalam mengatur alokasi penempatan dana serta pemilihan portfolio.

Jenis reksa dana lain memiliki batasan spesifik yang tidak boleh dilanggar soal pengalokasiannya dana kelolaanya. Pada reksa dana pendapatan tetap misalnya, alokasi dananya pada obligasi tidak boleh kurang dari 80%.

Baca juga : 4 Tips Investasi untuk Pemula Sebelum Memasuki Dunia Investasi

Kesimpulan

So, setelah membaca kategori-kategori reksa dana di atas, sudah kah terfikir pentingnya reksa dana? Mana pilihan yang menarik buat kalian? Tapi gimana mulainya? Tenang, ada investasi yang bisa dimulai dari Rp 10.000 lho. Contohnya reksadana di bukareksa.

Daripada tergiur sama godaan kartu kredit, belanja, hang-out di mall, nongkrong di kafe, dan lain sebagainya yang bisa membuat bengkak pengeluaran, lebih enak uangnya ditabung dan sebagian diinvestasikan biar nambah, oke gak tuh?

Apapun pilihan investasi yang dijalani, asalkan dimulai dan konsisten maka kita akan memanen hasilnya di masa akan datang. Sebingung apapun, kalau gak memulai ya akan tetap bingung terus.

Maka dari itu pahami pentingnya investasi dan mulailah melakukan. Ada seseorang yang pernah berkata di suatu seminar bahwa “yang penting bukanlah bagaimana aku bisa melakukannya, melainkan mengapa aku harus melakukannya. Karena ketika mengapa itu begitu besar, maka bagaimana itu menjadi kecil”.

Menurut anda selain reksa dana investasi apa ya yang cocok untuk mereka yang kelahirannya tahun 90-an? Yuk kita diskusikan bersama. 🙂