Mengenal Lean Startup : Apa dan Bagaimana Sih Lean Startup Itu?

Startup adalah suatu bisnis yang baru dikembangkan tetapi sejak awal sudah ditargetkan untuk tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat.

Itulah pebedaan mendasar dari startup dan bisnis enterpeneurship biasa. Anda tentu tahu Traveloka, BukaLapak, HijUp, GoJek, Tiket.com, Bhinneka, dan usaha-usaha semacam itu, bukan?

Benar, mereka adalah perusahaan-perusahaan startup. Dan Anda tentu dapat menilai sendiri bagaimana perkembangan mereka.

Sebenarnya startup tidak harus berhubungan dengan dunia teknologi seperti yang mayoritas ada seperti saat ini. Tetapi kita tidak dapat menghindari bahwa memang teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi bagian yang menempel sangat rekat dalam hidup kita.

Baca juga: 9 Tips Membangun Bisnis Meskipun Sambil Bekerja

Era internet dan digital sudah menyatu di masa kini dan prospek di masa depan akan semakin cerah. Dan satu hal yang perlu diingat, untuk membuat suatu bisnis startup, kita harus menjadi visioner.

Seolah-olah menempatkan diri di masa depan dan menciptakan keadaan di saat itu. Dalam menjalankan startup, tentu kita tidak bisa sembarangan.

Tanpa perencanaan dan cara-cara yang tepat, yang Anda lakukan akan menjadi tidak efektif dan efisien. Ada sebuah metode dalam dunia startup yang terkenal dan digunakan untuk memangkas hal-hal yang dianggap wasting time dan menyebabkan ketidakefisiensian proses, yakni metode lean startup.

Definisi Metode Lean Startup

Metode lean startup adalah suatu metode dalam bisnis yang dipopulerkan oleh Erric Ries yang bertujuan untuk memperpanjang lifecycle suatu produk dengan cara meminimalisasi risiko dan memberikan value added yang baru.

Dalam metode lean startup, Anda akan fokus untuk membuat prototype dari produk startup yang akan Anda ciptakan untuk kemudian digunakan sebagai penguji asumsi.

Prototype ini kemudian akan Anda bawa keluar dan tunjukkan kepada orang-orang (khususnya target pasar) dengan tujuan mendapatkan feedback.

Bingung? Baiklah.

Agar lebih mudah, kita buat sebuah ilustrasi. Misal Anda ingin membuat sebuah startup dalam bentuk aplikasi atau website perpustakaan digital.

Langkah awal untuk menjalankannya tentu Anda harus merencanakan dengan baik siapa target pasar, nilai atau manfaat produk Anda bagi konsumen, dan hal-hal lainnya seperti yang tertuang dalam sembilan poin business model canvas.

Setelah merumuskan elemen-elemen tersebut, Anda dan tim tentu akan mulai bekerja. Anda tentu tidak ingin sudah terlanjur membuat suatu produk namun ternyata respon masyarakat tidak antusias, bukan?

Nah, dalam metode lean startup, Anda tidak perlu terburu-buru membuat produk jadi. Buatlah prototype dari produk yang ingin Anda luncurkan, lalu tunjukkan prototype tersebut kepada orang-orang yang Anda targetkan sebagai pasar.

Dengarkan feedback mereka dan jadikan sebagai masukan untuk memperbaiki prototype Anda. Setelah diperbaiki, tunjukkan lagi prototype kepada target pasar, tampung feedback mereka, catat.

Begitu seterusnya sampai prototype sudah siap untuk diwujudkan dalam bentuk produk asli.

Apa Keuntungan Menggunakan Metode Lean Startup?

  1. Meminimaliasi risiko kegagalan bisnis ketika sudah dipasarkan.
  2. Menghindari investasi besar di awal yang mungkin saja ternyata produk tidak diterima pasar.
  3. Memangkas hal-hal yang tidak efisien.

Apa Saja Tahapan dalam Metode Lean Startup?

Secara umum, metode lean startup mencakup tiga tahapan, yakni market validation, product validation, dan business validation.

a. Market Validation

Berbekal business canvas model, Anda tentu sudah menentukan siapa yang akan menjadi target pasar Anda. Syarat utama bisnis startup Anda akan berhasil adalah jika Anda jujur dan menerima apa yang memang sebenarnya terjadi di masyarakat dan menjadi kebutuhan orang-orang.

Let’s say Anda ingin membuat sebuah situs atau aplikasi reservasi hotel dengan asumsi bahwa melakukan reservasi di hotel secara konvensional tidak praktis dengan target para traveler dalam negeri.

Baca juga: Jangan Sampai Pelanggan Kabur Karena Masalah Ini

Anda harus melakukan validasi kepada calon konsumen mengenai ide Anda. Jika memang respon mereka bagus dan menganggap bahwa reservasi secara konnvensional memang menjadi suatu permasalahan, go ahead.

Dengarkan pula apa yang kira-kira mereka harapkan jika ada suatu aplikasi reservasi hotel di ponsel sebagai masukan dan bisa jadi sebuah inspirasi bagi Anda.

Apabila ternyata respon target pasar kurang prospek untuk ide bisnis Anda, jangan menyerah. Lakukan pivot dengan observasi permasalahan apa yang sebenarnya ada di dalam masyarakat dan buatlah solusi yang kira-kira dapat memecahkan masalah tersebut.

b. Product Validation

Setelah respon pasar bagus dan sesuai, Anda kemudian dapat segera mengerjakan prototype produk yang akan diluncurkan.

Anda pun sebetulnya tidak harus langsung mengerjakan proses coding yang panjang dan melelahakan. Bisa saja Anda menggunakan bahan-bahan yang sederhana, misal dari karton yang dibuat menyerupai ponsel dengan gambar fitur-fitur di dalamnya.

Setelah siap, bergegaslah untuk kembali ke luar dan kembali menerima respon dari calon konsumen. Biarkan mereka berkomentar dan dengarkan apa yang mereka sarankan.

Baca juga: Seberapa Penting Reputasi Online Bagi Pebisnis?

Jika feedback ternyata masih belum mencapai target minimal, maka perbaiki protoype, tunjukkan lagi, dengarkan respon, dan begitu seterusnya.

Kapan Anda harus berhenti? Ketika tingkat kepuasan calon konsumen mencapai target. Sebelum get out of the building, buat standar minimal. Misal, prototype dianggap sudah baik jika minimal 16 dari 20 responden menyatakan baik.

c. Business Validation

Tahapan ini dilakukan untuk memastikan bahwa apa yang akan kita buat memang memiliki nilai bisnis dan mampu menyelesaikan apa yang menjadi suatu permasalahan di masyarakat.

Tahapan ini biasanya dilakukan oleh mereka yang memang ahli dalam bisnis dan marketing, untuk faktor sustainable dan growing dari produk yang dibuat.

Nah, itulah hal-hal dasar yang perlu Anda tahu mengenai lean startup, terutama jika Anda penggiat startup business. Selamat mencoba, selamat berkarya!