Ekonomi Syariah VS Kapitaslisme dan Sosialisme

Bagi para pencari jasa perencana keuangan, perencanaan keuangan syariah adalah salah satu pilihan yang sedang dicari. Pasalnya, pada tahun 2008, saat perekonomian dunia sedang jatuh, bank-bank dengan sistem syariah berhasil bertahan.

Setelah perekonomian mulai pulih, banyak bank-bank konvensional mulai membuka anak perusahaan yang mengimplementasikan sistem ekonomi syariah. Bagaimana bisa sistem ekonomi syariah bertahan dari krisis global?

Apa keunikan sistem ekonomi syariah dibanding dengan sistem ekonomi konvensional? Dilihat dari tujuannya, sistem ekonomi syariah adalah sistem yang unik jika dibandingkan dengan sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme.

Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang membebaskan kepemilikan modal bagi individu. Dalam sistem ekonomi ini, kepemilikan modal adalah segalanya.

Baca juga: Tips Jitu Mengelola Keuangan untuk Pemula

Berlawanan dengan kapitalisme, kepemilikan modal bersifat sosial, yang artinya hak memiliki modal dipegang oleh badan-badan sosial tertentu seperti koperasi, negara, atau warga.

Tujuan dari sistem ini adalah memastikan distribusi kekayaan yang merata untuk tiap-tiap anggota masyarakat. Dalam implementasinya, sistem ekonomi kapitalis dan sosialis memiliki kelemahannya masing-masing, dan ekonomi syariah dianggap sebagai “jalan tengah” bagi kedua konsep ini.

Sistem ekonomi syariah menggunakan syariat Islam yaitu Alquran dan sunah sebagai fondasi utamanya. Berbeda dengan sistem ekonomi konvensional yang menganggap kemakmuran material sebagai tujuan.

Tujuan utama sistem ekonomi syariah adalah keseimbangan antara kekayaan material dan spiritual. Selain itu, kelebihan sistem ekonomi syariah adalah monopoli (yang lumrah terjadi dalam sistem kapitalisme) dan terbatasnya hak individu (dalam sistem sosialisme) dapat diatasi.

Baca juga: 7 Investasi Menguntungkan untuk Mereka yang Usia 20-an

Mewujudkan kekayaan spiritual dan kemaslahatan orang banyak di samping kekayaan material untuk diri sendiri adalah manfaat yang dijanjikan oleh sistem ekonomi syariah. Hebat, bukan?

Bagi Anda yang tertarik dengan perencanaan keuangan syariah dan bermaksud merencanakan keuangan syariah untuk diri sendiri, terdapat empat larangan dasar dalam ekonomi syariah yang harus dijadikan patokan:

1. Kegiatan Ekonomi Syariah Sangat Menjauhi Riba

Dalam sistem kredit konvensional, bunga atau bertambahnya jumlah utang dalam waktu tertentu adalah hal yang umum.

Bunga dianggap sebagai riba dalam syariat Islam, sehingga pratiknya adalah sesuatu yang dilarang. Pasalnya, dengan adanya sistem bunga seperti ini, kesenjangan sosial dapat dengan mudah terjadi.

2. Gharar Juga Dilarang Dalam Islam

Gharar dalam Bahasa Indonesia berati “ketidakpastian” atau “kecurangan”, yaitu sesuatu yang dilarang oleh syariat Islam. Kontrak ekonomi tanpa kelengkapan informasi bagi kedua pihak merupakan hal yang tidak diperbolehkan dalam sistem keuangan syariah.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Anda Perlu Berinvestasi Koin Perak Dirham

Kondisi-kondisi yang dianggap gharar adalah saat terdapat dua pihak yang melakukan kontrak ekonomi, dan salah satu pihak tidak memiliki informasi yang lengkap. Atau saat salah satu pihak tidak memiliki kendali atas transaksi yang disetujui.

3. Masyir atau Qimar Dilarang dalam Ekonomi Maupun Keuangan Syariah

Sebuah transaksi dikatakan masyir apabila mengandung ketidakpastian. Kekayaan yang didapatkan lewat kemungkinan atau perhitungan yang tidak jelas, dianggap sebagai perjudian dan dilarang dalam sistem keuangan syariah.

4. Kegiatan atau Aktivitas yang Menjurus Pada Keharaman Mutlak Dijauhi

Dalam sistem ekonomi syariah, barang dan jasa yang dianggap haram menurut Alquran atau sunah, dilarang untuk diperjualbelikan.

Barang dan jasa yang dilarang ini meliputi alkohol, prostitusi, makanan yang haram, narkoba, dan lainnya. Hal-hal tersebut dilarang karena berbahaya bagi masyarakat.

Setelah memahami hal-hal yang dilarang dalam keuangan syariah, di bawah ini terangkum hal-hal yang harus diperhatikan dan manfaat dalam perencanaan keuangan syariah:

1. Allah adalah pemilik utama dari segala kekayaan yang ada

Konsep ini adalah konsep dasar dalam keuangan syariah. Menurut konsep ini, harta yang dimiliki oleh manusia hanya titipan. Maka dari itu, cara seorang pelaku ekonomi mengelola hartanya harus sesuai dengan perintah-Nya.

Pelaku ekonomi harus adil, tidak menyia-nyiakan dan menghambur-hamburkan kekayaan yang dimiliki. Pengelolaan yang efisien dan sesuai dengan syariat adalah tujuan utama dari perencanaan keuangan syariah.

2. Keseimbangan antara kekayaan materi dan spiritual

Dalam Islam, seorang individu yang mempraktikkan syariah dalam aktivitas ekonominya dianggap sedang melakukan ibadah.

Dalam hidup, seseorang dapat mengejar kekayaan materi, akan tetapi kekayaan spiritual adalah sesuatu yang tidak kalah penting.

Memastikan agar selalu memiliki kekayaan material dan spiritual yang sebanding adalah manfaat utama dari perencanaan keuangan syariah.

Dengan mengacu ke syariat Islam, seorang perencana keuangan juga harus memperhatikan kebutuhan spiritual. Selain itu, perencana keuangan syariah harus memperhatikan prioritas wajib dan sunah.

3. Melakukan aktivitas ekonomi secara adil, jelas, dan bertanggung jawab

Dalam Islam, aktivitas ekonomi bukan merupakan sesuatu yang harus diawasi dengan ketat dan dibatasi. Syariah menuntut agar sebuah kegiatan ekonomi dilakukan secara netral, jujur, dan bertanggung jawab kepada orang lain, Allah, dan lingkungan.

Manfaatnya adalah agar kekayaan yang dimiliki seseorang dapat berguna bagi sesama dan tidak menyebabkan kerugian bagi masyarakat maupun lingkungan.

Baca juga : Cara Mudah Investasi Emas Syariah

Agar sesuai dengan syariat Islam, sebuah perencanaan keuangan syariah akan menjauhi investasi yang tidak jelas asal-usul dan kegunaannya.

Seorang perencana keuangan syariah tidak boleh hanya memikirkan keuntungan. Sebelum menanamkan saham, selalu pastikan bahwa perusahaan yang dipilih bukan perusahaan yang menjual barang dan jasa yang haram, atau mendapat keuntungan dari sumber yang tidak jelas.

4. Kebutuhan individu harus seimbang dengan kebutuhan masyarakat

Menurut ajaran Islam, rasa tanggung jawab kepada sesama dan sumber daya alam adalah dua hal yang utama. Saat menikmati kekayaan yang dimiliki, seorang individu juga dianjurkan untuk memikirkan dan melakukan sesuatu untuk kemaslahatan orang banyak.

Dalam merencanakan keuangan, memperhatikan dan menghitung zakat berdasarkan jenis dan perhitungannya adalah hal yang penting.

Baca juga: Informasi Singkat Mengenai Uang Fiat

Menyisihkan sebagian pendapatan rutin untuk disumbangkan dan menentukan sasaran penerima yang tepat adalah salah satu tujuan utama dari perencanaan keuangan syariah.

Manfaat dari kegiatan ini adalah agar sebagian kekayaan yang kita miliki dapat dinikmati juga oleh orang lain secara maksimal. Sekian artikel saya, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Baca artikel ekonomi dan politik lainnya juga ya. 🙂