Pilih Menjadi Seorang Entrepreneur atau Pedagang?

Sewaktu kecil saya bercita-cita menjadi pengusaha, hingga sekarang pun saya masih menyimpan cita-cita tersebut. Saat kuliah, seorang dosen bertanya di depan kelas, apa perbedaan antara entrepreneur dan pedagang?

Ah ya, saya baru menyadari bahwa keduanya berbeda. Dalam pemikiran saya kala itu, seorang entrepreneur pasti berdagang dan seorang pedagang harus memiliki jiwa entrepreneur.

Dosen saya menjelaskan bahwa seorang pedagang adalah seseorang yang menjual dagangannya hanya untuk bertahan hidup.

Jadi misal ketika ada seorang penjual gorengan di pasar lalu ia hanya memutar modal dan menjualnya terus menerus tanpa ada kreasi dan inovasi lain, maka ia adalah pedagang.

Beda hal yang dilakukan oleh seorang entrepreneur. Ia tidak akan puas hanya dengan berjualan dan memutar modal. Ia akan terus melakukan progress terhadap usahanya.

Baca juga : Berniat Memanfaatkan Bakat? Ini 7 Tips Mengubah Passion Menjadi Rupiah yang Bisa Anda Coba

Hari demi hari ia lakukan evaluasi atas usahanya, apa yang menjadi kekuarangan hari ini dan bagaimana meningkatkannya di esok hari.

Sehingga bisnis yang dijalankan seorang entrepreneur akan terus berinovasi, berkembang, dan tak mengenal stagnansi.

Beberapa perbedaan entrepreneur dan pedagang yang dijelaskan dosen saya tersebut, membuat saya menyimak penjelasannya sembari evaluasi diri terhadap bisnis yang saya jalankan.

Yang pertama dari segi pencatatan keuangan. Ah ya, saya jadi ingat akan bisnis yang saya jalankan baru-baru ini. Karena tertarik dengan membuat aneka kreasi flannel, maka saya membuat sendiri aneka kreasi flanel itu seperti pin, gantungan, frame, dll.

Saya produksi sendiri, memasarkan sendiri, dan mencatat sendiri modal, pemasukan dan pengeluaran sederhana. Bagi saya ketika barang dagangan laku adalah hal yang paling membahagiakan, sehingga saya tidak terlalu detail terhadap pemantauan catatan keuangan.

Baca juga : Inilah 7 Buku Wajib Baca bagi Calon Pengusaha dan Pengusaha Pemula

Sementara seorang entrepreneur mencatat dengan detail setiap cashflow, sangat menghargai setiap uang yang masuk dan keluar, serta memisahkan uang untuk kebutuhan pribadinya dan bisnisnya.

Ah, pencatatan saya amat kacau kala itu karena masih mencampur adukkan antara prive dan kas usaha saya.
Yang kedua dari sisi pemasaran. Entrepreneur dan pedagang memang sama-sama melakukan pemasaran.

Namun strategi yang dilakukan berbeda. Strategi saya kala itu secara offline dan online. Secara offline menawarkan dari mulut ke mulut, dan menawarkan dari orang yang terdekat, seperti teman-teman di kelas maupun teman-teman di organisasi kampus.

Kalau online saya tawarkan di media sosial. Ternyata yang paling banyak pesanan datang adalah dari strategi online. Tapi ada satu hal yang saya lupakan.

Baca juga : Ini Alasan Mengapa Dropout Kuliah Karena Bisnis Itu Tidak Keren!

Saya tidak memiliki kekhasan dalam hal packaging apalagi melabeli produk saya. Hal inilah yang membuat saya sadar bahwa tidak ada perbedaan unik antara produk saya dan produk orang lain.

Yang ketiga adalah mindset. Setiap orang bisa saja membuka usaha, namun tidak semua orang mampu memiliki dan mempertahankan mindset seorang entrepreneur.

Definisi entrepreneur yang saya pahami adalah seorang yang memiliki pola fikir untuk terus maju dan berinovasi yang dibuktikan dengan integritas dan ketangguhan.

Kala itu saya membuka usaha flanel tersebut tanpa berfikir bagaimana usaha ini saya kembangkan. Sementara seorang entrepreneur akan melihat usaha yang dijalankan sebagai batu loncatan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar.

Saat itu kebahagiaan saya adalah dengan konsumen membeli produk saya. Akan tetapi seorang entrepreneur tidak hanya memikirkan bagaimana ia mendapatkan uang dari konsumen, tetapi bagaimana ia merawat dan menjaga hubungan baiknya dengan konsumen.

Baca juga : Panduan Lean Startup untuk Para Pegiat Bisnis Startup

Dikutip dari femina.co.id, perbedaan entrepreneur dan pedagang menurut Prof. Rhenald Kasali adalah seorang entrepreneur menciptakan suatu terobosan dan perubahan.

Sementara pedagang menjual produk yang sudah umum dijual di pasar. Jika berhasil menjadi entrepreneur maka keuntungannya akan lebih besar.

Keuntungan menjadi pedagang, kita tidak perlu mengedukasi pasar karena barang yang dijual banyak terdapat di pasaran. Untuk pengusaha pemula, boleh saja menjadi pedagang untuk menjadi langkah awal belajar jadi pengusaha.

Kalau pilihan anda menjadi pedagang, pilih tempat usaha yang sedekat mungkin dengan keramaian seperti perkantoran, sekolah, dsb.

Tapi jangan hanya punya 1 usaha, buatlah jadi banyak. Jika ingin lebih maju lagi, sebaiknya tidak berhenti menjadi pedagang. Buatlah inovasi dan kreativitas, maka anda bisa menjadi entrepreneur.

Yang saya tangkap bahwa menjadi seorang entrepreneur adalah sebuah proses. Secara sederhana proses tersebut dibagi menjadi 3 bagian oleh Prof. Rhenald Kasali.

Baca juga : 7 Alasan Kenapa Hampir Setiap Bisnis Pertama Itu Selalu Gagal

Bagian pertama adalah tahap awal ketika calon entrepreneur baru masuk garis start bisnis. Tahap kedua adalah mengembangkan usaha, dan tahap ketiga adalah pemantapan.

Ilmu bisnis dan manajemen yang dipelajari saat kuliah mungkin bisa menjawab beberapa pertanyaan, namun banyak persoalan yang hanya bisa dijawab hanya dengan melalui ketiga proses tersebut.

Tahap pertama adalah yang paling menguras energi, yakni startup. Disini seorang calon pengusaha akan diuji apakah mantap pada pilihannya untuk tidak menjadi karyawan kantoran, tidak menerima gaji yang stabil, dan rela menanggung resiko kegagalan.

Jika lolos dari tahapan ini, maka ia memasuki tahap pengembangan. Disini ia akan diuji dalam menjaga dan mempertahankan semangat para karyawan, mempertahankan kelancaran cashflow, serta melalui beragam badai ujian bisnis.

Akhirnya setelah berhasil melalui tahap pertama dan kedua, sampailah ia di tahap ketiga yakni pemantapan. Tahap ini bisnis sudah dapat berjalan tanpa kehadiran pengusaha secara operasional.

Baca juga : 9 Tips Membangun Bisnis Meskipun Sambil Bekerja

Sistem sudah terbentuk, maka bisnis ini tetap bisa berjalan walau pemiliknya “jalan-jalan”. Tugas selanjutnya adalah mencari bisnis baru atau mengembangkan pasar agar bisnisnya semakin melesat.

Well, setelah membaca tulisan di atas semoga bisa menjadi inspirasi ya. Bisnis yang kita jalankan selama ini, subjek kita sebagai entrepreneur atau pedagang?

Baik pedagang maupun entrepreneur intinya sama-sama baik, daripada tidak memulai sama sekali. Menjadi entrepreneur atau pedagang bukanlah suatu tujuan.

Karena toh bebrbisnis juga dimulai dari berdagang dan jika makin hari kita makin inovatif dan kreatif maka insyaAllah bisnis kita akan semakin melesat dan maju. Aamiin. 🙂