Select Page

Bahaya dari Cashless Society di Indonesia

Bahaya dari Cashless Society di Indonesia

Hallo semuanya apa kabar? Mohon maaf saya lama tidak meng-update blog ini beberapa hari yang lalu. Per hari ini saya baru saja menyelesaikan renovasi di sana-sini pada beberapa website saya. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan berbagi informasi mengenai bahaya dari cashless society di Indonesia.

Pada artikel sebelumnya saya sudah membahas sedikit tentang apa itu program cashless society di blog ini, pada artikel yang berjudul Uang Digital vs Emas Digital. Jadi memang dalam hal kemudahan pembayaran, lalu tingkat kepraktisan dari pembayaran, dan jauh lebih aman ketimbang seseorang membawa uang dalam jumlah besar dan banyak ketika bertransaksi.

Kurang lebih hal di atas, ada salah satu keunggulan dari program cashless society. Tapi sebenarnya adakah kekurangan dari program tersebut? Yup, di dunia ini bisa dibilang selalu ada kekurangan dan kelebihannya. Tinggal dari aspek mana kita melihatnya. Tujuan dari tulisan ini sebagai edukasi yang informatif kepada pembaca TheGold.Asia tentang pemanfaatan sistem cashless society di Indonesia.

Agar lebih mudah dalam penjelasannya, saya akan memberikan ilustrasi kepada Anda dengan sebuah cerita. Ada seorang mahasiswa yang mulai di “kehidupan nyata” setelah lulus dari bangku perkuliahan. Dahulu mahasiswa ini selalu menyimpan uangnya di dompet untuk membeli barang-barang kebutuhannya di kamar kos.

Karena saat ini ia sudah bekerja sebagai seorang karyawan swasta di Jakarta. Kebetulan di kantornya terdapat kegiatan promosi dari perbankan tentang uang elektronik. Hanya bermodalkan kartu dan tapping. Ia bisa membeli barang-barang kebutuhan sehari-harinya dengan mudah dan cepat. Dibandingkan sebelumnya harus menggunakan uang cash secara fisik. Belum lagi kalau kembaliannya receh, ratusan, atau ribuan rupiah. Bikin penuh dompet saja pikirnya.

Alhasil kebiasaan baru ini tanpa sadar ter-install dalam pikiran bawah sadar mahasiswa tersebut tanpa ia sadari. Selang beberapa bulan, ia baru menyadari, tatkala ia mengecek tabungan, aset, dan nilai investasi yang ia miliki dan jaga selama ini. Nilainya tidak bertambah. Malah cenderung menurun. Akhirnya ia melakukan instrospeksi diri dengan hal-hal yang ia lakukan selama ini.

Dan setelah ia instrospeksi diri, ada beberapa hal yang ia ingat. Salah satunya adalah gaya hidup yang telah berubah dari tadinya seorang mahasiswa dan sekarang sudah menjadi seorang profesional. Pendapatan naik dan gaya hidup juga naik. Well, itu salah satu masalah yang ia berhasil identifikasi. Selanjutnya adalah ia menemukan bahwa hal-hal konsumtif juga meningkat karena pengaruh program cashless society yang ia ikuti pada awal-awal menjadi seorang karyawan di kantor tadi.

Apa pengaruhnya? Pengaruhnya adalah manakala ia membeli sesuatu, hanya bermodalkan smartphone, cash card, kartu kredit, atau kartu debit. Ia tidak menghadirkan kesadaran secara seutuhnya. Bahwa uang digital yang ia miliki itu nilainya sama dengan uang kertas fisik. Yailah, semua orang juga tau! Maaf, jangan disela dulu.

Maksud saya adalah ketika Anda mendapatkan uang dari seseorang. Entah itu gaji atau uang jajan. Dan yang memberikan, memberi Anda dalam bentuk uang kertas fisik. Bisa Anda raba, bisa Anda lihat, bisa Anda sentuh. Bagaimana perasaan Anda? Senang bukan? Nah, berbeda halnya ketika Anda mendapatkan uang atau belanja dengan uang digital dengan program cashless. Uang tersebut berbentuk digital dan tidak dapat Anda sentuh, Anda raba, atau Anda lihat secara langsung tanpa perantara.

Anda hanya akan melihat, misalnya notifikasi topup saldo pada tabungan Anda via SMS Banking, Mobile Banking atau Internet Banking saja. Hanya bertuliskan Rp. 1.000.000,- atau Rp. 50.000.000,-; Sehingga perasaan-perasaan yang tadi saya sebuatkan tidak muncul lagi. Padahal perasaan dalam hal sentuhan, raba, melihat, dan seterusnya. Atau dalam istilah lain VAK(Visual, Audiotori, Kinestetik) akan menyampaikan informasi yang lebih akurat dan terpercaya ke pikiran seseorang.

Sehingga ketika ia berbelanja suatu barang, akan lebih mudah baginya untuk mengerem belanja barang yang tidak penting. Karena ia menggunakan uang kertas fisik. Berbeda dengan uang digital atau cashless. Karena pembayaran hanya tapping atau gesek sajaInformasi yang disampaikan ke pikiran tidak membentuk kesadaran penuh bahwa uang yang ia miliki telah berpindah tangan atau terpotong.

Pahamkan ya maksud saya sampai di sini? Apa lagi dengan teknik selling dan marketing (Baca juga: Seni Memindahkan Uang Orang Lain). Perusahaan berlomba-lomba untuk meningkatkan penjualan mereka dengan taktik dan strategi yang membuat Anda berdecak kagum atas produk mereka. Sama halnya ketika Anda menonton sebuah pertunjukan sulap.

Sebagai solusinya, bagi Anda yang mulai berpindah gaya hidup modern dengan menggunakan cashless. Anda perlu rutin mengontrol pengeluaran Anda secara ketat. Ingat, bahwa kartu debit, kartu kas, kartu kredit, dan seterusnya. Itu juga merupakan uang, yang sama halnya dengan uang fisik. Jadi bangun kesadaran penuh bahwa kartu-kartu tadi adalah uang Anda yang nyata!

Nah agar semakin banyak yang paham dan mengeri tentang kekurangan dan kelebihan dari program cashless ini. Anda dapat bagikan tulisan ini melalui Facebook, Twitter, Google Plus, WhatsApp, dan Line ke teman-teman Anda.

About The Author

Robi Erwin Setiawan

Kunjungi situs saya yang lain di @SitusTarget (Teknologi Terbaru); @TheGoldasia (Bisnis & Investasi); dan @DedeObidotcom (Pengembangan Diri). Anda dapat menghubungi saya melalui alamat email berikut ini [email protected].

Follow Us

Butuh Informasi Tentang Bisnis & Investasi?

Dapatkan informasi eksklusif tentang dunia investasi dan bisnis dengan mendaftarkan email anda: (Gratis).

Proses pendaftaran hampir selesai, mohon cek email Anda dan Klik tombol konfirmasi.

Pin It on Pinterest